Cinta Saja Tidak Cukup Part 22 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 22


By: Sally Diandra

Sore itu sekitar pukul 4, setelah pulang kantor, Jodha menikmati suasana sore dikota Jogja bersama anak semata wayangnya, Salim yang usianya saat ini sudah menginjak 4 tahun. Salim sangat senang bila ibunya meluangkan waktu luangnya untuk bermain main bersamanya, satu hal yang sangat diinginkannya setiap hari, beban kerja Jodha setiap hari sebagai perawat memang kadang sering mengesampingkan kebersamaannya dengan anak semata wayangnya itu.

“Mama, aku pengin main dikids zone, boleh ya, ma?”

Jodha hanya mengangguk “Iya, boleh ... emang Salim mau main apa sih?”

“Mobil balap!”

Dengan sigap Salim langsung berlari kearea permainan yang khusus mobil balap, sementara Jodha menunggunya disebuah kursi dan memperhatikannya dari kejauhan, Jodha sadar diusianya yang sudah menginjak 4 tahun ini, Salim termasuk anak yang cerdas, dia cepat sekali belajar, semua ilmu baru yang baru diketahuinya langsung diserapnya dengan begitu cepat termasuk semua permainan yang ada dikids zone ini yang terletak disalah satu mall terbesar di Jogja, bisa dikatakan kalau semua permainan disini sudah Salim kuasai semuanya kecuali permainan bola dalam keranjang besar semacam basket yang kadang sering membuatnya frustasi dan permainan ini sering dimanfaatkan oleh dokter Surya untuk mengalahkan Salim.

“Jodha ...”

Jodha langsung menoleh begitu mendengar namanya disebut, dokter Suryaban sudah berdiri disebelahnya.

“Mana Salim?”

Jodha menunjuk ke arah permainan mobil balap “Itu anaknya, kamu mau bermain dengannya kan? Aku titip dulu, aku mau ke cafe biasa, tiba tiba pengin minum kopi nih”

“Okee ... serahkan padaku, nanti kalau sudah selesai, aku antar kesana”

Jodha hanya mengangguk kemudian segera berlalu dari tempat tersebut sementara dokter Surya mulai mendekati Salim.

Kebersamaan dokter Surya dan Salim sudah bagaikan keakraban antar seorang ayah dan anaknya, sehingga Jodha tidak merasa canggung menitipkan Salim pada dokter Surya, keakraban mereka berdua inilah yang akhirnya membuat pertahanan Jodha sebagai seorang single parent mulai luluh, Jodha mulai mempertimbangkan lamaran dokter Surya untuk menjadi suaminya setelah selama 4 tahun menanti kesanggupan Jodha untuk berbagi suka dan duka disisa hidupnya.

Saat itu matahari sudah mulai terbenam, ketika Jodha sampai dicafe tempatnya biasa nongkrong bareng Moti dan dokter Surya, Jodha sengaja memilih kursi yang berada diluar cafe, sehingga pemandangan kota Jogja pada saat petang bisa terpapar dengan jelas didepan matanya, Jodha paling suka melihat pemandangan menjelang malam begitu toko toko disepanjang jalan Malaiboro itu tutup, bergantian dengan pelaku usaha lain yang tak lain adalah para penjaja makanan lesehan yang menyewa tempat mereka untuk berjualan. 

Setelah beberapa jam Jodha menikmati kopi dan rainbow cakenya, tiba tiba sebuah tangan mungil memeluknya dari belakang erat “Mama ...”

“Hmm ... anak mama sudah selesai bermain rupanya, siapa ini yang menang?”

Salim duduk disebelah Jodha “Aku dong, ma!”

“Tapi Salim selalu kalah kalau main lempar bola keranjang, iya kan?” dokter Suryaban yang berjalan dibelakangnya langsung menimpali ucapan Salim

“Aaah ... nggak asyik kalau main ama papa Surya, papa Surya curang, ma!”

Jodha hanya menggeleng gelengkan kepalanya “Curang kenapa sayang?”

“Ya masa, papa Surya ngajakin Salim main basket kayak orang besar itu, Salim kan nggak bisa” dokter Suryaban cuma ketawa sambil mengacak ngacak rambut Salim “Mama, aku lapar!”

“Oke, Salim mau makan apa?”

“Gudeg!”

“Oke kita makan gudeg, ayooo”

Jodha segera mengajak Salim meninggalkan cafe menuju ke tempat lesehan para penjaja makanan dipinggiran jalan Malaiboro, sesampainya mereka disana ketika sedang menunggu makanan yang akan disajikan tiba tiba ponsel Jodha berdering.

“Mama, HP mama bunyi”

“Oh iya, sayang ... terima kasih, Mama angkat telfon dulu ya ... ya hallo ... Oke oke aku segera kesana” dokter Surya langsung tanggap itu pasti telfon dari rumah sakit.

“Ada apa Jodha?”

“Rumah sakit nelfon, katanya ada kecelakaan, ada beberapa korban kecelakaan, mereka kekurangan tenaga medis, ada yang harus di operasi saat ini juga” Jodha bergegas hendak meninggalkan mereka “Salim, malam ini mama nggak bisa menemani kamu makan, kamu makan sama papa Surya dulu yaa, mama harus kerja dulu sekarang”

“Mama kan udah kerja tadi pagi, kenapa harus kerja lagi?”

Jodha tersenyum sambil mencium pipi anak semata wayangnya ini “Ini tugas mendadak, sayang ... dan mama nggak boleh menolak karena ini berkaitan dengan nyawa seseorang, Salim tau kan mama kerja apa?”

“Perawat!”

“Tugasnya perawat itu apa?”

“Merawat orang!”

Jodha memeluk anaknya erat “Itu artinya mama harus merawat seseorang malam ini, Salim nanti pulangnya sama papa Surya ya, bilang sama nenek kalau mama pulangnya agak telat, okay?” Salim segera mengangguk “Ayooo cium mama, sayang” Salim mencium kedua pipi dan kening ibunya “Mama pergi dulu yaa, dokter Surya titip Salim, tolong katakan ke ibu, aku mungkin pulang agak malam”

Dokter Surya mengangguk “Apa tidak lebih baik aku antar saja?”

“Nggak usah, kasihan Salim dia kan ingin menikmati makanannya malam ini, temani dia saja” Jodha pun segera berlalu dari tempat itu.

Sesampainya dirumah sakit, ketika Jodha mulai memasuki lorong menuju keruang operasi tempatnya bekerja, Jodha melihat dikanan kiri lorong terdapat banyak orang sedang duduk duduk

“Mereka ini pasti keluarga korban kecelakaan” bathin Jodha dalam hati.

Jodha terus melanjutkan langkahnya menuju keruang ganti baju operasi dan atribut yang lain, ketika melewati bangku yang dekat dengan pintu, Jodha bisa melihat dengan jelas sosok yang dikenalnya selama ini yang selalu menjadi pertanyaan anak semata wayangnya “Mama, kenapa wajah Salim nggak seperti mama atau nggak seperti papa Surya?”

“Karena Salim, wajahnya mirip papa Jalal, coba lihat ini foto papa Jalal”

“Kapan Salim bisa ketemu sama papa Jalal, ma? Kenapa papa Jalal nggak pulang pulang, ma? Papa Jalal pulangnya kapan, ma?”

Pertanyaan pertanyaan Salim tiba tiba terngiang ngiang ditelinga Jodha dan saat ini orang itu telah benar benar ada didepan matanya, hanya berjarak beberapa meter saja. Saat itu Jalal sedang memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya kedinding, dilihatnya semuanya tidak berubah kecuali rambutnya yang semakin gondrong, badannya kurus seperti tidak terurus dan jambangnya yang mulai tumbuh lebat didagunya, beda dengan Jalal yang dulu yang selalu mencukur bersih jambangnya yang mulai tumbuh.

“Apakah kamu benar benar Jalal?” Jodha bertanya tanya dalam hati “Apakah salah satu korban kecelakaan yang kali ini adalah salah satu kerabatnya?”

Jodha hanya bisa menduga duga dan sengaja Jodha tidak menampakkan dirinya didepan Jalal, saat ini Jodha belum siap bertemu dengan Jalal, Jodha segera berlari menjauhi Jalal sambil menutupi mulutnya dengan tangannya, Jodha menangis haru, karena dirinya bisa melihat Jalal hidup dan sehat walaupun penampilannya tidak beraturan seperti itu, Jodha menangis pilu.

Sementara itu Jalal segera terbangun dari tidurnya sejenak setelah mendengar ada suara orang berlari menjauh, waktu itu sekelebat tubuh Jodha masih nampak sebelum Jodha masuk kedalam pintu, Jalal bisa melihatnya dan Jalal merasa tidak asing dengan tubuh tersebut tapi sayang dirinya tidak bisa melihat wajahnya, Jalal sadar rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit yang belum Jalal datangi untuk mencari informasi tentang Jodha, namun kembali Jalal tersadar kalau Rukayah ada didalam, Rukayah termasuk salah satu korban kecelakaan yang harus dioperasi, sementara adiknya Mirza Hakim hanya luka ringan biasa, Jalal teringat bagaimana peristiwa kecelakaan itu bisa terjadi.

“Jalal, aku ikut!” Rukayah ngotot meminta Jalal ikut mencari Jodha.

“Kamu sekali ini aja nggak ikut bisa nggak sih? Ini aku pergi sama Mirza bukan untuk mencari Jodha, kami ada urusan sendiri” Jalal mulai marah ke Rukayah.

“Yaa apapun itu, aku ikut! Pokoknya aku ikut! Kamu mau pergi kemana kek ke bulan kek aku ikut! Pokoknya aku ikut!” Rukayah terus merajuk minta ikut.

“Sudahlah, kak ... biarkan dia ikut” ujar Mirza Hakim kesal.

“Ya sudah! Ayo ikut! Kamu duduk dibelakang!”

Sepanjang perjalanan Rukayah menggerutu karena dirinya harus duduk dibangku belakang “Jalal, aku mau pindah depan!” Rukayah kembali melakukan aksi ngambeknya.

“Kamu ini maunya apa sih? apa sih bedanya duduk didepan dengan duduk dibelakang? Sama saja kan?” Jalal kembali kesal dengan Rukayah yang mengganggunya sejak berangkat tadi, tiba tiba Jalal menghentikan mobil kantornya itu lalu keluar dari kursi pengemudi dan membuka pintu belakang “Sekarang pindah! Kamu mau didepan kan? Sekarang kamu didepan, silahkan! Aku yang dibelakang, ayooo ...”

Rukayah cemberut melihat tingkah Jalal yang seperti itu, sebenarnya yang diinginkan Rukayah adalah duduk disebelah Jalal dan Mirza Hakim yang duduk dibelakang, sekarang malah terbalik, dia yang didepan bersama Mirza Hakim sedangkan Jalal yang duduk dibelakang, dengan berat hati Rukayah duduk dikursi pengemudi, Jalal malah tiduran dikursi tengah sambil menikmati perjalanan. Rukayah yang masih kesal dengan Jalal dan egonya yang tinggi yang selalu menginginkan apa apa serba dipenuhi, semakin merasa kesal dan marah, tiba tiba mobil dipacunya hingga kecepatan 100 km/jam ... Jalal dan Mirza yang sedari tadi diam sambil menikmati perjalanan tiba tiba kaget dengan perubahan laju mobil yang begitu kencang

“Rukayah! Kamu gila apa! Kamu sadar nggak sih, kamu ini ngebut! Aku mohon pelankan Rukayah!”

Rukayah tidak menggubris ucapan Jalal dari bangku belakang “Biarin! Aku pengin ngebut!”

“Kak Rukayah kamu gila! Ini Jogja bukan Jakarta! Lagian nggak perlu ngebut lagi disini!” Mirza ikut menimpali ucapan Jalal.

“Aku bilang biarin! Ya biarin! Aku pengin ngebut!”

“Rukayah! Aku mohon, Rukayah!”

Belum sempat Rukayah memelankan laju mobilnya tiba tiba dari arah depan melaju truk tronton yang membunyikan klaksonnya yang kencang dan menyalakan lampu dimnya yang begitu menyilaukan membuat Rukayah panik dan kehilangan keseimbangan.

“Awaaaaasssss Rukayaaahhhh!!!!” Jalal mencoba memberikan peringatan ke Rukayah namun karena Rukayah sudah panik dengan kecepatan yang tinggi, tak ayal lagi mobil yang mereka tumpangi itu menabrak bagian belakang truk minyak yang melaju didepan mereka dan kecelakaan itupun terjadi, hingga menyebabkan kecelakaan beruntun, beberapa mobil dibelakang mereka terlibat kecelakaan karambol gara gara mobil mereka yang menabrak truk minyak, mobil Jalal ringsek dibagian depan, yang membuat kondisi Rukayah sangat parah, sementara Jalal dan Mirza Hakim hanya mengalami luka luka ringan.

Part Selanjutnya  Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 22

7 comments:

  1. Lanjuuuut mba bentar lagi ketemu tuch ... tq

    ReplyDelete
  2. Waduh penantian yang panjan, lanjut mb sally...sukriya.

    ReplyDelete
  3. Mba Sally....jangan bilang setelah kecelakaan ini ruq cacat, dan pencarian jalal sudah berakhir karena dah ketemu Jodha tapi mereka tetap tidak bisa bersatu karena Jalal harus mendampingi Ruq sebagai bentuk tanggung Jawab dan balas budinya.....aaagggghhhhh ngga mauuuu ~ nangis bombay sambil nyari tembok T_T

    ReplyDelete
  4. Aw,aw,aw,, akhirnya ,,jgn lma2 ktmuanny y,,:-)

    ReplyDelete
  5. Kalau karakter Rukaya diMatikaN aKu jahatt baNgett gaa ya... aLNee kasiaN Jodha saMa Jalal... Kalau Maham aNga Masih bisa diatasi dech kyakNya... gaa sbar NuNggu jodha jalal keteMu... trus bicara baik" taNpa eMosii...Mkasiii
    www.ngarep.com

    ReplyDelete
  6. gimana yaaa nasib Rukayah????
    Apakah akan seprti Jalal waktu kecelakaan, yang mengalami koma n lumpuh????
    N gimana reaksi Jodha saat tau kalau Jalal dah Janji untuk menikahi rukayah???
    Aku hanya berharap moga part 23 cepat di posting... hehehe. Penasaran banget nech.

    ReplyDelete
  7. Hapus ja wes bunda sally si ruqayah dari cerita ini,,
    Ketemuin jodha jalal dong?
    Jangan di pisahin lagi kan kasihan salim

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.