Cinta Saja Tidak Cukup Part 23


By Sally Diandra

“Anda tuan Jalal?” Jalal langsung menganggukkan kepalanya begitu melihat beberapa polisi mendekat kearahnya, Jalal tahu kalau dirinya akan dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib soal kecelakaan yang dialaminya “Ya, saya Jalal”, “Bisa minta waktunya sebentar untuk kami mintai keterangannya?”, “Boleh, mari pak”

Ketika Jalal hendak mengikuti para polisi tersebut tiba tiba sebuah suara menghentikan mereka “Tunggu!” dari arah pintu kamar operasi seorang dokter dan dua orang perawat datang menghampirinya, salah satu perawat itu adalah Jodha yang menutupi wajahnya dengan masker kain
“Maaf, apakah anda kerabat korban kecelakaan yang bernama Rukayah?” tanya sang dokter, Jalal segera menganggukkan kepalanya “Ya, ada apa? Apakah ada yang gawat?” raut muka Jalal langsung berubah tegang sedangkan Jodha menatapnya dengan debaran jantung yang begitu kencang “Ternyata dia benar Jalal, suaranya masih sama seperti yang dulu, rupanya dia sudah sembuh, terima kasih Tuhan ... akhirnya doaku Kau kabulkan” Jodha terus mengamati wajah Jalal, wajah yang sangat dirindukannya selama 4 tahun ini, wajah yang selalu mengisi mimpi mimpinya, wajah yang selalu membuatnya bertahan untuk tetap menjadi seorang single parent, ingin rasanya Jodha berteriak mengatakan kalau dirinya telah berada disisinya saat ini, namun yang jadi pertanyaan, buat apa dia berada di Jogja sekarang? Apakah Jalal sudah tahu kalau dirinya berada di Jogja? Jodha hanya bisa menebak nebak sambil terus memandangi wajah mantan suaminya itu dengan tatapan haru, sementara Jalal masih ngobrol dengan sang dokter yang akan mengoperasi Rukayah.

“Jadi maksud anda, kedua kaki Rukayah harus diamputasi?” Jodha langsung terkejut begitu mendengar suara Jalal yang terdengar gemetar, Jodha memang belum sempat melihat kondisi Rukayah didalam, dirinya langsung ikut keluar menemani sang dokter demi mencari tahu apakah benar laki laki yang dilihatnya ini adalah mantan suaminya? “Iya, tuan Jalal, untuk itulah kami minta persetujuan anda selaku kerabatnya, agar kami bisa segera mengamputasi kedua kakinya” Jalal sesaat terhenyak mendengar penuturan sang dokter “Apakah hal itu tidak bisa ditunda, dok? Sampai keluarganya datang? Saat ini mereka sedang dalam perjalanan kemari” sang dokter menggelengkan kepala “Kami tidak bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu pada nona Rukayah, tuan ... kami takut dia kehilangan banyak darah sebelum kami sempat mengoperasinya” Jodha merasa iba melihat Jalal yang kebingungan, ingin rasanya Jodha memeluknya dan memberikan dukungannya pada mantan suaminya ini tapi semua itu tidak bisa dia lakukan, Jodha merasa ragu dengan Jalal setelah sekian lama mereka tidak bertemu, apalagi saat ini ada Rukayah ada disamping Jalal “Apakah Rukayah saat ini dekat dengan Jalal? Sebenarnya ada apa dengan mereka?” Jodha terus meraba raba, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan ke Jalal tapi semua itu hanya tertahan diujung lidahnya, tak lama kemudian Jalal menyetujui kaki Rukayah untuk diamputasi, Jodha melihat Jalal sedang menandatangani beberapa berkas yang diajukan oleh pihak rumah sakit, ketika semua sudah selesai tiba tiba Jalal menoleh kearahnya, mata mereka saling beradu pandang, Jalal merasa mengenal dengan mata itu sementara Jodha langsung menundukkan kelopak matanya dan menutupi bet namanya dengan tempat map yang dibawanya sedari tadi, ketika Jalal hendak bertanya sesuatu, Jodha segera berbalik dan menghindar dari Jalal bersama sang dokter dan perawat lainnya.

“Mari tuan Jalal, kita selesaikan terlebih dulu masalah kita” suara salah satu polisi membuyarkan niat Jalal untuk mengejar perawat yang matanya tidak begitu asing bagi Jalal, walaupun wajahnya tertutup oleh masker tapi rasanya Jalal kenal dengan mata itu, mata itu seperti mata Jodha, Jalal baru teringat namun beberapa polisi langsung menggiringnya kesebuah ruangan untuk ngobrol dengan mereka. S

etelah Jalal selesai memberikan kesaksiannya ke polisi tersebut, Jalal segera menuju ke lobby rumah sakit dan langsung menuju ke customer service “Maaf, bu ... bisakah anda membantu saya?” Jalal berusaha mengiba meminta pertolongan pada wanita yang berjaga di customer service rumah sakit malam itu “Apa yang bisa saya bantu, pak?”, “Begini, kemarin saya menemukan sebuah dompet, kalau saya perhatikan sepertinya itu dompet salah satu perawat disini karena ada ID Cardnya, namanya Jodha tapi KTP nya Jakarta, bu ... apakah saya bisa meminta alamat rumahnya agar saya bisa mengembalikan dompet itu kedia?” Jalal mengarang sebuah cerita palsu sementara wanita penjaga customer service itu mengernyitkan dahinya menatap Jalal dengan pandangan menyelidik “Anda bisa memberikan dompetnya pada kami, nanti akan kami kembalikan ke orangnya”, “Tidak bisakah saya bertemu dengan suster Jodha, bu?”

Jalal berusaha memasang tampang semelas mungkin, tekadnya sudah bulat, apapun akan dia lakukan untuk bisa bertemu dengan Jodha, Jalal yakin Jodha pasti berada dirumah sakit ini, wanita penjaga customer service itu kemudian berbicara dengan melalui telefon dan tak lama kemudian menoleh kearah Jalal kembali “Pak, maaf kami tidak bisa memberikan alamatnya pada anda tapi kalau anda ingin bertemu langsung dengannya, kebetulan malam ini dia sedang melakukan operasi, anda bisa ke ruang operasi dilantai 3, dia sedang bertugas disana, anda bisa menemuinya setelah dia selesai melakukan operasi” mata Jalal langsung berbinar terang, harapannya selama 4 tahun ini mencari Jodha akhirnya terkabul juga, Jalal segera berlari menuju kealantai 3 tempat dimana tadi Rukayah dioperasi, Jalal yakin mata yang memandangnya tadi adalah mata Jodha “Kenapa dia tidak segera mengatakan kalau itu adalah dirinya? Apakah mungkin Jodha merasa bersalah padaku, sehingga dia tidak mau menemui aku? Apakah benar yang dikatakan oleh bibi Maham Anga selama ini? Tapi rasanya tidak mungkin, aku harus mencari jawabannya, aku harus menanyakannya pada Jodha!” Jalal bertekad untuk terus menunggu Jodha sampai dia keluar dari ruang operasi. Namun sayangnya hingga menjelang tengah malam, Jodha tidak keluar juga dari ruang operasi tersebut, Jalal tetap menunggu dengan sabar.

Sementara itu diruang recovery, Jodha iba dengan keadaan Rukayah yang harus kehilangan kedua kakinya, Jodha mencoba menemani Rukayah yang saat itu belum tersadar dari masa kritisnya, Jodha ingin memberikan dukungan untuk Rukayah, Jodha terus menunggui Rukayah hingga Rukayah bisa melewati masa kritisnya malam ini. Ketika pagi menjelang sekitar pukul 4 pagi, tiba tiba Jodha merasa tangan Rukayah yang digenggamnya sejak tadi bergerak gerak, Jodha langsung bangun “Rukayah ... kamu sudah sadar? Rukayah ...” sesaat Rukayah mengerjap ngerjapkan matanya, samar samar dilihatnya ada wajah seseorang yang berada dekat sekali dengannya, semakin jelas wajah itu semakin jelas apalagi ketika senyum diwajah itu mengembang Rukayah bisa mengenali itu adalah senyum Jodha “Jodha???” Rukayah benar benar terperanjat begitu dilihatnya Jodha berada didepannya, sementara Jodha tersenyum senang “Rukayah, kamu sudah sadar? Kamu masih ingat aku?” Rukayah merasa terharu dan langsung memeluk Jodha, Jodhapun membalas pelukan Rukayah erat “Jodhaaa ... aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini, bagaimana kabar kamu, Jodha?”, “Aku baik baik saja, Rukayah ... kamu sudah merasa baikkan?” Rukayah melonggarkan pelukannya, dirinya merasa tidak bisa merasa kedua kakinya “Aku merasa baikkan, Jodha ... tapi kenapa aku nggak bisa merasakan kedua kakiku?” Jodha bingung bagaimana menjelaskannya pada Rukayah, secepat kilat Rukayah langsung membuka selimut yang menutupi kakinya dan dilihatnya kakinya tidak ada disana “Aaaaaaaaa tidaaaakkk!!!!!” Rukayah langsung berteriak kencang “Rukayah, tenang Rukayah ...tenang ...” Jodha berusaha menghibur Rukayah.

“Bagaimana aku bisa tenang, Jodha! Bagaimana aku bisa tenang! Aku tidak punya kaki lagi! Kakiku mana Jodha! Bagaimana aku bisa menikah dengan Jalal?” Rukayah terus berteriak teriak karena kehilangan kedua kakinya, sementara Jodha tertegun begitu mendengar teriakan Rukayah tentang Jalal, Jodha sadar kalau saat ini Rukayah memang sedang dekat dengan Jalal, maka tak heran bila mereka berdua ada dirumah sakit ini, tak lama kemudian salah satu perawat segera mendekati Rukayah dan memberikan suntikan biusnya agar Rukayah bisa tenang kembali, Rukayahpun terkulai lemas tak sadarkan diri.

Jodha segera berlari keluar, diriya tidak tahan setelah mendengar ucapan Rukayah “Bagaimana aku bisa tenang, Jodha! Bagaimana aku bisa tenang! Aku tidak punya kaki lagi! Kakiku mana Jodha! Bagaimana aku bisa menikah dengan Jalal?” Jodha menangis dimeja kerjanya, penantiannya selama 4 tahun ini pupus sudah, Jalal telah memilih Rukayah untuk menggantikan posisi dirinya tapi semua ini bukan salah Jalal, dirinyalah yang telah meninggalkan Jalal, Jalal pasti telah melupakan dirinya. Jodha segera menyeka pipinya yang basah, segera diambilnya tasnya kemudian berlalu dari ruang kerjanya, tidak dihiraukannya panggilan temannya yang bertanya padanya, Jodha hanya diam saja sambil terus berjalan menuju ke parkiran sepeda motor, saat itu sudah pukul 6 pagi, disepanjang lorong menuju ke ruang operasi yang ditinggalkannya tidak dilihatnya Jalal, Jodha terus berjalan menuju ke tempat parkir motor.

Ketika Jodha sedang menyebrang ketempat parkir, tiba tiba pak Satpam langsung menepuk bahu Jalal yang sedang duduk sambil terpejam disebelahnya “Pak Jalal! Itu suster Jodha sudah keluar” Jalal segera membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke tempat parkir motor “Itu suster Jodha, apa benar suster itu yang anda cari?” Jalal mengangguk mantap “Jodha! Aku tidak boleh kehilangan kamu lagi sekarang!” Jalal segera berlari kearah Jodha setelah mengucapkan terima kasih ke pak Satpam yang sudah membantunya tadi.

“Jodha!” Jodha segera menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya, sesaat dirinya terpaku melihat sosok laki laki yang sangat dikenalnya, Jalal segera menghampirinya dan hendak memeluk tubuh Jodha namun Jodha segera mundur sambil menutupi mulutnya dengan tatapan haru “Jodhaaa ... kamu masih ingat aku kan? Aku Jalal suamimu” Jodha hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mundur, Jalal segera menghampirinya cepat dan merengkuh lengannya “Lepaskan aku!” tiba tiba suara Jodha terdengar meninggi “Kenapa, Jodha? Ada apa? Apa salahku?”, “Aku bukan Jodhamu lagi, Jalal! Aku bukan istrimu, kita sudah bercerai, tidak ada hubungan apa apa diantara kita lagi!” Jodha terus berteriak agar Jalal menjauh darinya “Bagaimana bisa? Aku ini masih suamimu yang sah! Kamu tahu, aku jauh jauh datang dari Jakarta kesini, hanya untuk mencari kamu” Jalal merasa heran dengan perubahan sikap Jodha “Buat apa kamu mencari aku? Kita sudah tidak punya hubungan apa apa lagi dan lagi kalau toh kamu benar benar mencari aku itu buat apa? Sementara kamu berencana menikahi Rukayah kan?” Jalal terperangah mendengar ucapan Jodha “Aku mohon, tinggalkan aku Jalal, selama ini aku sudah nyaman dengan hidupku ini, tolong ... jangan kamu tambahi beban hidupku, aku mohon Jalal” sesaat Jalal melonggarkan genggaman tangannya dilengan Jodha sambil terus menatap Jodha dengan pandangan tidak percaya “Kenapa Jodha jadi berubah seperti ini? Apakah benar seperti yang dikatakan bibi Maham selama ini? Dan lagi dari mana dia tahu kalau aku mau menikahi Rukayah? Apakah dia sudah bertemu Rukayah semalam?” Jalal terus bertanya tanya dalam hati sementara Jodha segera berbalik dari berjalan secepat mungkin menjauh dari Jalal, Jalal segera mengejarnya namun Jodha sudah agak jauh didepan sudah mencapai pintu gerbang rumah sakit dan segera mencegat angkot yang melintas didepannya, Jalal berlari secepat kilat untuk mengejar Jodha namun angkot yang membawanya telah berlalu, untungnya saat itu ada motor ojek yang mangkal didepan rumah sakit, Jalal segera meminta tukang ojek itu untuk mengikuti angkot yang ditumpangi Jodha, Jalal merasa ada yang janggal dalam perubahan diri Jodha, Jodha yang sekarang bukannya Jodhanya yang dulu dan Jalal ingin mencari tahu.

To Be Continued

Part Selanjutnya Klik Disini


8 comments

Write comments
Linda Santoni
AUTHOR
8 April 2015 at 05:48 delete

Lanjuuuit... mudah mudahan bisa ketemu yaaa smp rumah jodha... nanti ketemu salim deech asiiik tq

Reply
avatar
salmahtaurus
AUTHOR
8 April 2015 at 08:35 delete

Apakah Jalal tetap akan menikahi rukayah untuk memenuhi janjinya?
N apakah di chapter 24 nanti Jalal dah tau kalau dia punya "Salim" anaknya dengan Jodha
Jalal bakalan dilema nech kayaknya....
buat mba Sally thanks a lot dah posting lagi, walaupun kita dibuat penasaran selama berhari2. Hehehe

Reply
avatar
eva astarini
AUTHOR
8 April 2015 at 10:26 delete

mbak cus part selanjutnya jangan lama2 doong,,,
Penasaaraan................... nih

Reply
avatar
8 April 2015 at 12:40 delete

Semakin menegangkan
Cepetan ya bunda Sally kelanjutannya
Semangat juga chusni
Satukan lagi jodha jalal ya bunda

Reply
avatar
8 April 2015 at 16:16 delete

Kshn jodha dan Jalal smg bisa bersatu kembali, apalagi punya anak hsl buah cintax

Reply
avatar
poojha m
AUTHOR
10 April 2015 at 17:05 delete

Pengen nangis rasanya hikz

Reply
avatar
poojha m
AUTHOR
10 April 2015 at 17:06 delete

Pengen nangis rasanya hikz

Reply
avatar
11 April 2015 at 19:38 delete

Ga sabar gimana ya jalal klo ketemu salim ??
Ayo mba lanjutkan ...

Reply
avatar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.

Followers

Google+ Followers