Cinta Saja Tidak Cukup Part 24 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 24



By: Sally Diandra

Tak berapa lama kemudian angkot yang ditumpangi Jodha berhenti disebuah gapura sebuah perumahan, dari kejauhan Jalal bisa melihat Jodha keluar dari dalam angkot kemudian bergegas menggunakan becak “Pak, ikuti terus wanita itu!” Jalal yakin kalau Jodha pasti akan pulang kerumahnya sendiri dengan begitu Jalal bisa lelusa untuk menanyakan semuanya ke Jodha, menanyakan tentang kepergiannya ketika dirinya sekarat.. Tak lama kemudian becak yang ditumpangi Jodha berhenti disebuah rumah yang bergaya minimalis, Jalal segera menyuruh sopir ojek itu berhenti “Stop disini saja, pak! Terima kasih, ini uangnya!” Jalal segera menghampiri rumah yang Jodha masuki tadi, sesampainya disana Jalal melihat Jodha baru saja hendak masuk kedalam pintu rumahnya “Jodha!”
Jalal segera berteriak memanggil Jodha sebelum Jodha masuk kedalam rumah, sementara dari tempatnya berdiri Jodha tau kalau yang memanggilnya adalah Jalal, rupanya Jalal telah mengikutinya sejauh ini, Jodha segera menoleh, dilihatnya Jalal sedang berdiri didepan pintu pagar “Kamu maunya apa sih?” Jodha segera menemui Jalal “Apakah tidak lebih baik kalau kamu menyuruh aku masuk terlebih dahulu? aku ingin membicarakan hal ini secara baik baik” Jalal memohon pada Jodha sambil memegangi pagar halaman “Buat apa? Kita sudah tidak punya hubungan apa apa lagi, Jalal ... hubungan kita telah berakhir” Jalal terperangah begitu mendengar ucapan Jodha “Kenapa kamu sekarang berubah, Jodha? Apa yang salah dari diriku? Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu meninggalkan aku? Meninggalkan suamimu yang jelas jelas sedang sekarat berjuang antara hidup dan mati! Kenapa kamu lakukan itu, Jodha! Jawab! Aku butuh jawaban itu sekarang!” tanpa sadar suara Jalal melengking tinggi, membuat Jodha sedikit merinding mendengarnya.

Tepat pada saat itu pintu rumah terbuka, ibu Meinawati yang mendengar teriakan Jalal dari dalam segera menghambur keluar, dilihatnya menantunya sedang berdiri didepan pagar sambil memegangi pagar sementara Jodha berdiri didepannya “Yaaa Tuhan, Jalal bisa sampai disini? Bagaimana bisa?” ibu Meinawati sesaat tertegun melihat kehadiran Jalal dirumahnya pagi itu “Lebih baik kamu pergi, Jalal! Tidak ada gunanya kamu berada disini” Jodha tetap bersikeras mengusir Jalal “Aku tidak akan pergi! Aku butuh jawaban, Jodha!” Jalal juga tetap bersikeras tidak bergeser dari tempatnya “Mamaaaaa!” tiba tiba Salim menyeruak keluar dari belakang ibu Meinawati berlari menuju ke Jodha, Jodha langsung panik begitu Salim menggelanyut manja dikakinya, sedangkan Jalal terperangah tidak percaya melihat Salim “Saliiiim, ayoo Salim masuk dulu, mama sedang ada tamu, Salim sama nenek dulu ya” ibu Meinawati segera menggeret Salim untuk melepaskan genggamannya ditubuh Jodha tapi Salim malah berputar putar menghindari neneknya “Nggak mau Salim nggak mau, Salim mau sama mama, Salim mau sama mama” Salim terus memegangi kaki Jodha “Salim, Salim anak pintar kan ... ayo nak sama nenek dulu yuuuk” Salim berontak ketika neneknya berhasil menggeretnya masuk kedalam rumah “Salim mau sama mama, Salim mau sama mama, nenek” Jodha hanya terdiam membisu, dirinya serasa dipaku ditempatnya berdiri, tubuhnya terasa kaku tidak bisa bergerak kemana mana “Kalau anakku laki laki akan kuberi dia nama Salim” Jalal teringat ucapannya dulu ketika berandai andai memberikan nama untuk anak mereka bersama Jodha “Salim?” akhirnya Jalal mengucapkan sepatah kata “Ituuu Salim ... anakku, Jodha?” mata Jodha berkaca kaca.

Jodha tidak bisa menjawabnya, Jodha malah berbalik dan masuk kedalam rumah, ibu Meinawati melihat Jodha berlari menuju ke kamarnya, ibu Meinawati bingung namun akhirnya diberanikannya keluar menemui Jalal “Masuklah, Jalal ... tidak baik kalau berada diluar terus” ibu Meinawati segera membuka pintu gerbang untuk Jalal, Jalal sangat senang mendapat sambutan dari ibu mertuanya ini “Terima kasih, ibu ... kedatangan saya kesini tidak ingin membuat keributan” ibu Meinawati menganggukkan kepalanya, dia tahu maksud Jalal dan segera menggandeng lengan menantunya ini masuk kedalam rumah “Masuklah ...” Jalal segera memasuki rumah Jodha, dilihatnya disana disebrang ruang tamu Salim sedang bermain dengan mainan legonya sambil bercerita seorang diri, sementara Shivani adik Jodha sedang asyik menonton televisi sambil terbaring, dari ruang tamu, Jalal mencoba mencari sebuah jawaban siapa tahu dirinya bisa melihat ada foto pernikahan Jodha dengan laki laki lain, tapi tidak ada foto pernikahan didinding manapun, yang ada hanya foto foto keluarga Jodha atau foto Salim dan Jodha “Duduklah” bu Meinawati meminta Jalal untuk duduk, lama mereka saling terdiam dengan fikiran mereka masing masing, Jalal masih mencoba merangkai cerita yang terpisah selama 4 tahun lamanya.

“Kapan Salim lahir, bu?” tiba tiba Jalal kembali angkat bicara, ibu Meinawati sesaat tercekat mendengar pertanyaan Jalal, disekanya airmata yang mengalir dipipinya yang mulai renta, kerut kerutan itu sudah terlihat disana, kerutan yang mengambarkan garis kehidupan yang begitu keras yang harus dijalaninya selama ini “Salim lahir tanggal 19 Oktober 4 tahun yang lalu” Jalal tertegun, diingatnya ucapan ibunya dirumah sakit Mount Elizabeth Singapura ketika dirinya baru saja terbangun dari tidur komanya yang panjang “Tanggal berapa hari ini, bu?”, “Sekarang tanggal 19 Oktober, Jalal” Jalal segera memandang kearah Salim yang masih asyik bermain “Empat tahun yang lalu, bu?” Jalal mencoba mencari kepastian dari ibu Meinawati, ibu Meinawati hanya mengangguk “Salim anakku, bu? Apakah benar Salim anakku?”, “Ceritanya panjang, Jalal ...” ibu Meinawati mulai membuka diri “Aku akan mendengarkannya, bu ... selama 4 tahun ini aku mencari Jodha, aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada diri Jodha, aku tidak percaya Jodha meninggalkan aku begitu saja, aku ingin tahu ada apa, bu? Aku butuh Jawabannya?” ibu Meinawati memandang Jalal dengan penuh haru dan tak butuh waktu lama akhirnya cerita itu meluncur dari bibirnya, cerita yang selama ini Jalal nantikan, cerita yang selama ini membuatnya selalu bermimpi tentang Jodha dan seorang anak kecil.

“Jadi benar Salim adalah anakku, bu?” bu Meinawati mengangguk mantap setelah mengakhiri ceritanya “Salim ...” bu Meinawati memanggil Salim agar mendekat ke mereka, Salimpun menurut “Salim, Salim tahu siapa om ini?” cukup lama Salim memperhatikan raut wajah Jalal yang masih sangat asing baginya, dengan rambut gondrong, kumis dan jambangnya yang begitu lebat, Salim merasa takut melihat Jalal, Salim malah berlindung dibalik tubuh neneknya “Kenapa sayang? Jangan takut, sini ... dekat papa, ini aku papamu, nak?” ujar Jalal dengan mata mata berkaca kaca memandang haru kearah Salim, ingin segera dipeluknya anaknya itu, anak yang selama ini diinginkannya, namun Salim malah semakin berlindung dibalik tubuh neneknya, Salim merasa ragu dan takut karena dalam ingatannya papa Jalalnya tidak begitu menakutkan seperti yang didepannya kali ini “Salim, ayooo sini ... Ini papa Jalal, papanya Salim, Salim ingat foto yang ditunjukkan mama?” bu Meinawati berusaha meyakinkan Salim “Papa Jalal nggak seperti itu! Salim takut, nenek” Salim bergegas berlindung dibalik tubuh neneknya kembali sambil sekali sekali mengintip melihat Jalal, Jalal mencoba tersenyum tapi Salim tetap takut “Mungkin dalam bayangannya, papa Jalalnya tidak seperti ini, Jalal ... fotomu yang biasa Jodha tunjukkan padanya itu tidak berjambang seperti kamu, makanya Salim takut” Jalal menyadari bahwa dirinya saat ini berjambang dan bau karena sejak semalam dirinya belum mandi “Bolehkah aku menumpang mandi, bu? Mungkin ada baiknya kalau aku membersihkan diriku dulu agar Salim tidak takut lagi padaku” ibu Meinawati langsung mengangguk “Ya lebih baik begitu, Jalal ... Lebih baik kamu mandi, gantilah bajumu juga, nanti aku ambilkan kaos Jodha dan ada baiknya kalau kamu mencukur jambangmu” Jalal mengangguk menuruti permintaan bu Meinawati, tak lama kemudian Jalal sudah masuk kedalam kamar mandi dilantai bawah.

Sementara itu dikamar Jodha, Jodha masih termenung didalam kamar, dari atas Jodha bisa mendengar ibunya menceritakan semuanya ke Jalal “Dia sudah tahu sekarang, yaaaa Tuhan” bathin Jodha dalam hati, tak lama kemudian ibu Meinawati masuk ke kamar Jodha untuk mengambil kaos untuk Jalal “Kenapa ibu menceritakannya padanya, bu?” Jodha segera angkat bicara ketika ibunya sedang membuka lemari “Dia berhak mengetahuinya, Jodha ... dia itu tidak tahu apa apa, Jalal tidak bersalah, kamu tidak bisa menghukumnya dengan cara seperti ini” ibu Meinawati berusaha menyadarkan Jodha akan sikapnya ke Jalal, dibelainya rambut Jodha perlahan sementara Jodha hanya bisa diam sambil membenamkan wajahnya kedalam kedua lututnya “Bagaimanapun juga dia itu suamimu, dia masih suamimu dan ayah anakmu, Salim” Jodha menoleh kearah ibunya “Tapi kami sudah bercerai ibu!” ibu Meinawati menggelengkan kepalanya “Perceraian kalian tidak sah, tanpa sepengetahuan dari kedua belah pihak baik pihak istri maupun pihak suami, itu namanya bukan perceraian Jodha, surat cerai yang dibuat oleh bibi Maham Anga itu tidak bisa dibuktikan keabsahannya, kalian berdua ini masih suami istri” Jodha hanya diam saja mendengarkan ucapan ibunya “Bersikaplah baik pada suamimu, Jodha ... surgamu ada padanya dan dia selama ini selama 4 tahun ini dia telah mencarimu kemana mana, dia tidak pernah berputus asa, dia terus mencarimu, dia sangat yakin kalau kamu tidak seperti yang dikatakan bibi Maham Anga” ibu Meinawati berusaha menyadarkan Jodha.

Jodha menyeka pipinya yang basah karena airmata “Selama 4 tahun ini dia mencariku? Lalu apa hubungannya dengan Rukayah? Kenapa Rukayah tadi mengatakan akan menikah dengan Jalal?” beribu pertanyaan memenuhi benak Jodha “Kamu tahu, Jodha ... ikatan antara anakmu dan ayahnya itu sangat kuat” Jodha mengernyitkan dahinya “Maksud ibu?”, “Tanggal kelahiran Salim dan tanggal sadarnya Jalal dari komanya selama 7 bulan itu sama yaitu tanggal 19 Oktober” Jodha tercengang mendengarnya.

Part Selanjutnya Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 24

7 comments:

  1. Nanda chus.....bunda merinding bacanya, bener2 menyentuh sekali saat jalal mulai tau akan kebenarannya, semoga badai diantara mereka cepat berlalu ya....jangan lama2 lanjutannya ya nanda :)

    ReplyDelete
  2. Thanks a lot for chusnianti dah di posting lagi WLINE.
    q mpe baca ulang saling excitednya...
    terharu n seneng banget waktu Salim keluar n langsung manggil Jodha dengan "mamaa...."
    "awesome bangeeetttt...."

    ReplyDelete
  3. Hikz hikz (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ
    Berarti belum cerai kan,, tp kok list chapternya masih panjang,, cukup lama menunggu mereka bersatu so please please jgn ada masalah baru lagi :(
    Pesenkan mba sally diandra yaa mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesannya sih disampaikan, Mbak... tp realisasinya dari Mbak Sally sendiri... hehehe

      Delete
  4. Lanjuuuut..... semakin serruu dan menagihkan... jgn lama lama yaaaa lanjutannya ditunggu tq

    ReplyDelete
  5. Lanjut bunda sally
    Semoga semakin baik hubungan keduanya

    ReplyDelete
  6. Lanjutan nya kok lama ya...: (

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.