Cinta Saja Tidak Cukup Part 25 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 25



By: Sally Diandra

Setelah selesai mandi dan mencukur jambangnya, Jalal segera keluar dari kamar mandi, begitu keluar dari pintu kamar mandi rupanya Salim telah berdiri disana menatapnya dengan wajah polosnya, ternyata selama Jalal berada didalam kamar mandi, Salim telah menungguinya sedari tadi didepan kamar mandi, menunggui sosok yang selama ini dirindukannya, sosok yang selama ini selalu menjadi pertanyaannya, figur seorang ayah yang sangat diinginkannya seperti ayah teman temannya yang sering dilihatnya bila dirinya main kerumah teman temannya, lama Salim menatap Jalal yang kali ini penampilannya telah berubah sementara itu Jalal menatap Salim dengan mata berkaca kaca, Jalal benar benar tidak menyangka kalau Jodha ternyata telah mengandung anaknya ketika dia mengalami kecelakaan “Papa Jalal” Salim langsung menghambur kepelukan Jalal, Jalal langsung duduk bersimpuh dan memeluk Salim erat, diciuminya anak semata wayangnya itu, Jalal sangat bahagia karena akhirnya Salim bisa menerimanya setelah Jalal merubah penampilannya seperti Jalal yang dulu yang persis seperti difoto yang sering Jodha tunjukkan ke Salim
“Salim ... papa sayang sekali sama kamu, sayang” Jalal terus menerus menghujani Salim dengan ciuman “Papa Jalal kemana saja ? Kenapa papa nggak pulang pulang ?” sesaat Jalal tertegun tapi akhirnya sadar kalau mungkin Jodha telah membuat sebuah cerita tentang dirinya ke Salim “Papa harus bekerja, sayang ... jadi papa nggak bisa menemani Salim dan mama setiap saat”, “Papa Jalal ...” Jalal segera memotong ucapan Salim “Panggil papa saja sayang, nggak usah pake papa Jalal, Salim bisa ?” Salim mengangguk sambil mengusap airmata yang membahasi pipi Jalal yang tirus “Papa ... menangis ... seperti mama ...” Jalal tersenyum sambil menyeka airmatanya yang tersisa “Mama suka menangis ?” Salim mengangguk dengan wajahnya yang polos “Salim sayang sama mama ?” Salim kembali mengangguk “Apa mama juga suka marah ?”, “Kadang kadang”, “Kalau mama marah biasanya karena apa ?”, “Salim nggak nurut sama mama” Jalal tersenyum sambil membelai rambut merah Salim yang dibiarkan gondrong sehingga mirip dirinya.

Dari kejauhan bu Meinawati terharu melihat keakraban Jalal dan Salim “Biasanya kalau mama marah, Salim biasanya ngapain ?”, “Salim cium pipi mama” bu Meinawati segera menghampiri mereka “Salim sudah nggak takut kan sama papa ?” Salim menggelengkan kepalanya sambil menatap kembali wajah Jalal dengan tatapan matanya yang polos “Ya udah kalau begitu gimana kalau kita sarapan dulu ? Shivani panggil kakakmu untuk sarapan”, “Biar saya saja, bu ... biar saya yang memanggilnya” ujar Jalal sambil berdiri memohon ke bu Meinawati, bu Meinawati menghela nafas cukup dalam “Baiklah, memang lebih baik kalian berbaikan dulu, Salim antar papamu kekamar mama ya ?” Salim langsung menganggukkan kepalanya sambil menggandeng tangan Jalal dengan tangan mungilnya, Jalal mengikutinya dibelakang. Sesampai dikamar Jodha, saat itu kamar Jodha tertutup, Salim segera membukanya dengan berjinjit sambil memegangi handle pintu, pintupun terbuka, Salim segera masuk kekamar Jodha sementara Jalal masih berada diluar pintu, Jodha yang sedang terbaring miring segera bangun begitu melihat anaknya masuk ke kamarnya “Ada apa sayang ?”, “Mama kenapa menangis ?” Jodha segera menyeka pipinya yang basah “Mama nggak menangis kok, mama nggak papa ... Salim sudah sarapan ?” Salim menggelengkan kepalanya sambil menunjuk Jalal yang masih berada diluar pintu kamar “Ada apa sayang ?”, “Papa mau ketemu mama” ujar Salim dengan wajah polosnya.

Jalal mulai memasuki kamar Jodha, Jodha jadi salah tingkah begitu Jalal berada didepannya “Salim, lebih baik Salim sama nenek dulu yuuuk ... biar papa ngobrol dengan mama dulu ya” ibu Meinawati yang menyusul Salim ke kamar Jodha segera mengajak Salim untuk keluar, Salim menurut mengikuti neneknya keluar dari kamar Jodha dan Jalal segera masuk kekamar Jodha dan menutup pintunya rapat, sementara Jodha masih terduduk ditempat tidurnya “Hai ...” Jalal menyapa Jodha dengan sapaan khasnya “Hai ...” Jodha menjawab lemah, Jalal segera duduk disebelah Jodha “Ibu sudah menceritakan semuanya ke aku”, “Aku sudah tahu” jawab Jodha singkat “Kalau ternyata selama ini kamu tidak bersalah, kenapa setiap bertemu denganku kamu selalu menghindar ?” Jodha menatap wajah Jalal dengan tatapan yang tajam “Aku masih terikat kontrak untuk menghindari kamu, Jalal ... kamu nggak tahu kan apa yang aku alami selama 4 tahun ini, bagaimana aku mengandung anakmu dan menjalani kehidupanku tanpa kamu, kamu nggak tahu kan ?” tangis Jodha pecah, Jalal segera merengkuhnya dalam pelukkannya, Jodha memukuli tubuh Jalal,  “Aku tahu, aku tahu, Jodha, aku bisa merasakannya, aku bisa merasakannya” ujar Jalal sambil terus memeluk Jodha dan ikutan menangis “Lagian buat apa sih kamu mencari aku ? Buat apa ?” tangis Jodha semakin melengking “Karena kamu masih istriku, Jodha ... selama ini aku nggak pernah percaya pada omongan bibi Maham Anga, memang aku sempat berfikir seperti yang dikatakan oleh bibi Maham Anga tapi aku yakin kamu itu tidak seperti yang dikatakan oleh bibi Maham Anga, untuk itulah aku mencari kamu, aku ingin jawaban dari kamu” Jalal mencoba menenangkan Jodha “Kalau kamu mencari aku selama ini lalu kenapa kamu merencanakan untuk menikahi Rukayah ? Kamu akan menikahinya kan ?” Jodha berusaha mencari kebenaran dimata Jalal.

Jalal melepaskan pelukkannya sambil menghembuskan nafas panjang “Ceritanya panjang, Jodha ... pada intinya, selama aku dalam masa terapi setelah siuman, Rukayahlah yang merawat aku, aku ... aku memang berhutang budi padanya, oleh karena itulah bibi Maham Anga menyuruh aku untuk menikahinya, Jodha” Jalal menatap Jodha dengan pandangan haru dengan matanya yang berkaca kaca “Aku minta maaf, Jodha ... aku tidak bisa berbuat apa apa, aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya, sebenarnya berat bagiku untuk melakukan ini, tapi aku sudah berjanji padanya, tapi percayalah, Jodha ... aku tidak mencintai Rukayah, aku hanya mencintai kamu, apalagi saat ini ada Salim, aku sangat menyayangi kalian berdua, tidak ada yang lain selain kalian berdua, tapi ...” tiba tiba Jalal menghentikan ucapannya “Jodha, apakah aku boleh menikahinya ?” cukup lama mereka terdiam dengan fikiran mereka masing masing, Jalal merasa salah tingkah didepan Jodha.

Sementara itu dirumah sakit, Rukayah telah dipindah ke kamar, keluarga Rukayah dan keluarga Jalal telah datang kesana, ibu Hamida, Salima dan kedua orang tua Rukayah telah menemani Rukayah ketika mulai siuman “Rukayah ...” Rukayah menatap wajah wajah yang tidak asing baginya yang berada didepannya kali ini “Papa ... Mama ...” kedua orang tua Rukayah langsung memeluk anak semata wayang mereka “Kamu yang sabar yaa ...”, “Mama ... aku nggak punya kaki, mama ... bagaimana aku bisa berjalan ? Bagaimana aku bisa, ma ?” Rukayah terus menangis meratapi kedua kakinya yang hilang “Sabar, Rukayah ... ikhlas” ibu Hamida ikut menimpali “Lalu dimana Jalal, Rukayah ?” kali ini Salima yang ikut angkat bicara “Aku tidak tahu, kak ... semenjak aku siuman tadi, aku tidak melihat Jalal, aku malah melihat Jodha” Rukayah keceplosan menyebut nama Jodha didepan ibu Hamida dan Salim “Jodha ?” keduanya serentak menyebut nama Jodha “Jodha ada dirumah sakit ini, Rukayah ?” Rukayah merasa bodoh sekali menyebut nama Jodha didepan mereka. “Iyaa ibuu aku melihatnya, dia berdiri disampingku ketika aku siuman, dia mengenakan pakaian perawat tapi aku samar samar meihatnya, sepertinya antara iya dan tidak”, “Itu pasti Jodha, ibu ... coba kita tanya pada resepsionis dirumah sakit ini, bu” ibu Hamida mengangguk membenarkan perkataan Salima “Rukayah, ibu keluar dulu yaa ... nanti ibu kembali, mari nyonya Abdullah, tuan ...” kedua orangtua Rukayah hanya mengangguk lemah sementara Rukayah masih terus menangis meratapi nasibnya.

Dikamar Jodha, Jalal masih menatap Jodha dengan tatapan haru, mata mereka berdua berkaca kaca, saling menatap satu sama lain “Aku mengijinkanmu menikahi Rukayah, Jalal ... apalagi saat ini mungkin kondisi Rukayah sedang labil, kedua kakinya diamputasi, dia pasti sangat membutuhkan dukunganmu” Jalal hanya bisa mengangguk lemah “Aku merindukanmu, Jodha ... kamu tahu kan kalau aku sangat merindukanmu ?” Jodha menutup mulut Jalal “Aku minta maaf, Jalal ... kalau aku memutuskan untuk meninggalkanmu dulu, tapi ini semua aku lakukan agar kamu sembuh, aku sadar cinta aja bagi kita berdua nggak cukup, selain cinta kita juga membutuhkan hal hal yang lain dan jika saat itu aku tidak menyetujui permintaan bibimu maka aku tidak tahu bagaimana nasibmu sekarang, mungkin kamu ...”, “Tidak, Jodha ! Kamu tidak boleh berfikiran seperti itu, aku yakin aku akan sembuh” Jodha menggelengkan kepalanya “Tapi sampai kapan ? Sampai kapan kamu akan sembuh, sementara aku tidak punya uang untuk mengobatimu, kalau keluargamu tidak langsung mengambil alih pengobatanmu, aku tidak tahu bagaimana keadaanmu, Jalal” Jodha memegangi wajah Jalal sambil menangis, Jalal langsung merengkuhnya dalam pelukannya.

“Kenapa takdir tidak pernah berpihak pada kita, Jodha ... setelah 4 tahun kita berpisah, akhirnya kita bertemu tapi kembali kita harus menghadapi takdir yang tidak menyatukan kita, kapan semua ini berakhir, Jodha ?” Jalal masih terus mendekap Jodha erat sambil menangis, Jodhapun menangis, kerinduannya selama 4 tahun ini terbayar sudah dengan kehadiran Jalal didepannya “Kamu tahu ... tadi Salim sudah memanggil aku papa, anakku sudah memanggil aku papa, Jodha” Jodha tertawa sambil menangis menatap Jalal “Dia memang telah menantikan kehadiranmu sejak dulu, Jalal ... dia selalu bertanya, kapan kamu pulang ? Aku tahu kalau dia sangat menginginkan sosok ayah seperti teman temannya” Jalal juga tertawa sambil menangis, merekapun menangis sambil tertawa bersama, melepaskan kerinduan mereka berdua selama ini.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Cinta Saja Tidak Cukup Part 25

14 comments:

  1. Duch...seNeNgNyaa akhirNya jodha jalal juga bahagia...tpi giMaNa Nee klo jalal Nikah saMa Ruqaiya...

    ReplyDelete
  2. Kurang......... kurang panjang,,,
    but I'm happy finally Salim call to Jalal "Papa". akhirnya mereka kumpul lagi, tapi bagaimana dengan kisah mereka ya selanjutnya...???, coz Jalal harus nikahin Rukayah.
    Wah g sabar nech nunggu saat-saat Keluarganya Jalal ketemu ma Jodha n pastinya ketemu ma Salim juga donk.... Always waiting for the next chapter.

    ReplyDelete
  3. Asli part ini menguras air mata nanda chus....lanjouuutttkeeeeennn..... hiks hiks hiks Jodha baik banget seeehhh ngijinin Jalal nikahin si Ruqiyem hiks hiks hiks....salim juga bikin nagis dengan kepolosannya hiks hiks hiks....

    ReplyDelete
  4. Seneng..terharu..hikz..hikz..campursari dah..lanjut mbak...lanjut..

    ReplyDelete
  5. Oh no jangan ada poligami di antara mereka toh gak rela terlalu byk pengorbanan jodha

    ReplyDelete
  6. Lanjuuuuut mna sally... klo jalal tau bahwa rukayah selama ini bekerjasama dgn maham anga gimana yaaa gak usah nikahin dy dech.... yq

    ReplyDelete
  7. part yang benar-benar menguras air mata... T_T

    ReplyDelete
  8. Kok dikit bunda part ini?
    Sangat menarik hingga harus mewek lagi
    Setidaknya jodha jalal salim bahagia tapi kenapa harus ada si rukiyem juga diantara mereka?
    Ditunggu kelanjutannya chusni dan bunda Sally

    ReplyDelete
  9. Mengharuhkan dan gmn ya lanjutanx kshn mrk takdir tdk berpihak kemrk.

    ReplyDelete
  10. Terharu,, mb Sally salah satu penulis yang saya kagumi karya2nya,, ditunggu lanjutannya mb,, dan de Arum trimakasih

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.